welcome

SELAMAT DATANG DI BLOG YANG ASIK #ASSIIIK.

Kamis, 12 April 2012

MAKALAH : Pembuatan Karya Ilmiah


KATA PENGANTAR

          Alhamdulillah puji seta syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt karena atas berkat dan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PEMBUATAN KARYA ILMIAH” ini.
          Makalah ini disusun sebagai tugas dari guru PLH, Ibu Ami untuk memenuhi tugas pembuatan makalah.
          Makalah ini berisi materi tentang tata cara pembuatan dan perumusan karya ilmiah yang baik dan benar.
          Namun, kami menyadari betul bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini mengingat kami masih dalam proses pembelajaran. Untuk itu, kritik dan saran sangat kami harapkan dari semua pihak yang bersifat membangun bagi kesempurnaan makalah ini.
          Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata, kami mengucapkan banyak terimakasih bagi semua pihak yang telah berperan dalam pembuatan makalah ini.

Sukabumi, 11 Maret 2012

Penyusun
                                                                                

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG............................................................................................1
B. BATASAN MASALAH.........................................................................................1
C. TUJUAN............................................................................................................1
BAB II : PEMBAHASAN
A.MENGIDENTIFIKASI MASALAH LINGKUNGAN HIDUP.......................................
B. MENENTUKAN RUMUSAN MASALAH.............................................................. C.MENENTUKAN VARIABEL PENELITIAN ILMIAH.................................................
D. SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH.......................................................
BAB III : PENUTUP
1. KESIMPULAN...................................................................................................iii
2. SARAN.............................................................................................................iii
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................iv








ii



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
          Saat ini, telah banyak lembaga – lembaga yang mengharuskan pembuatan karya tulis dalam pelaksanaannya. Begitu juga sekolah – sekolah yang sudah menjadikan karya tulis sebagai tugas dalam penambahan nilai bagi murid – muridnya. Namun, kurangnya pengetahuan dari siswa dan siswi membuat tugas ini dianggap sulit dan kurang baiknya hasil dari karya ilmiah ini. Untuk itu, 

B.      Batasan Masalah
1.      Identifikasi masalah
2.      Rumusan masalah
3.      Variabel penelitian
4.      Sistematika penulisan karya ilmiah

C.      Tujuan
1.      Memenuhi tugas PLH
2.      Menambah wawasan akan pembuatan karya ilmiah






                                                                       




1
BAB II
ISI


1.     MENGIDENTIFIKASI MASALAH LINGKUNGAN HIDUP

Mengidentifikasi (mengenal) suatu masalah merupakan langkah pertama yang di lakukan di dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat di defenisikan sebagai suatu pertanyaan yang di inginkan untuk dipecahkan. Masalah inilah yang terkadang menyebabkan sasaran dari sistem tidak dapat di capai seperti apa yang di harapkan. Oleh karena itulah pada tahap analisis sistem, langkah pertama yang harus dilakukan oleh analisis sistem adalah mengidentifikasi terlebih dahulu masalah - masalah yang terjadi. Tugas - tugas yang harus di lakukannya adalah sebagai berikut :

1.Mengidentifikasi masalah
Yaitu, permasalahan lingkungan hidup adalah banyaknya manusia yang tidak menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup sehingga lingkungan bumi menjadi rusak dan tidak terurus.
2.Mengidentifikasi penyebab masalah
Kurangnya kesadaran manusia akan pentingnya kelestarian hidup sehingga manusia terus menerus merusak dan mengeksploitasi bumi tanpa memberikan timbal balik bagi bumi.
3.Mengidentifikasi titik keputusan
Memberikan banyak penyuluhan akan pentingnya lingkungan hidup, menegaskan peraturan bagi yang merusak lingkungan hidup, mengadakan berbagai kegiatan yang dapat menambah wawasan dan kesadaran, dan kebiasaan akan menjaga lingkungna hidup.
4.Mengidentifikasi personil - personil kunci
Dimulai dari diri sendiri, kemudian mengajak orang  lain. Pemerintah yang menjalankan kenegaraan, serta hukum dan lembaga yang memberikan penyuluhan – penyuluhan akan lingkungna hidup.

Memperhatikan dari 3 kriteria pengidentifikasian masalah yang layak:

1. Masalah harus mengekspresikan hubungan antara dua atau lebih variabel. Misalkan: apakah A mempunyai hubungan dengan B? Bagaimana A dan B berhubungan dengan C? Bagaimana A mempunyai hubungan dengan B dalam kondisi C dan D?.
Sehingga dalam mengidentifikasi masalah lingkungan hidup diperlukan variabel – variabel yang mendukung, seperti makhluk hidup, lingkungan, air, tanah, udara, polusi, dll. Kemudian memberi penjelasan hubungan keduanya seperti udara yang dicemari akn menyebabkan polusi, dll.

2. Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan dengan jelas dan tidak mendua (unambiguously). Misalkan tidak dalam bentuk ,”masalah penelitian ini adalah .......” atau ”tujuan penelitian ini adalah.....,” karena tujuan penelitian berbeda dengan masalah penelitian. Cara terbaik mengungkapkan penelitian penelitian adalah berbentuk pertanyaan.
Seperti :
-          Apakah yang menyebabkan terjadinya masalah lingkungan hidup ?
-          Apa dampak dari permasalahan lingkungan hidup ?
-          Bagaimana cara menanggulangi permasalahan tersebut ?


3. Masalah dan pernyataan masalah harus memperihatkan kemungkinan untuk dapat dilakukan pengujian secara empirik. Tidak semua pertanyaan dapat diuji secara empirik, misalkan pertanyaan ”apakah pendidikan demokrasi akan mengubah proses pembelajaran anak-anak muda?” atau ”apakah proses-proses kelompok baik bagi anak-anak?” pertanyaan - pertanyaan tersebut lebih banyak mengarah kepada pertanyaan metafisik, sehingga berada diluar jangkauan kemungkinan uji empirik, karena beberapa diantara yang dipermasalahkan tersebut tidak punya hubungan, dan sebagian besar konstraknya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk diukur.
Maka sebaiknya menggunakan pernyataan seperti “membuang sampah tidak pada tempatnya membuat sampah menumpuk dan mengakibatkan banjir”.  Karena hal tersebut dapat diuji kebenarannya.


2.     MENENTUKAN RUMUSAN MASALAH
Dalam menentukan rumusan masalah kita harus mengingat kembali karakteristik penulisan ilmiah, yaitu berlandaskan metode ilmiah. Hal ini berkaitan dengan dua pilar, yakni penjelasan teoritik melalui integrasi logika (logical integrity) dan pengujian empirik (empirical verification).
Berdasarkan hal tersebut maka gagasan tentang perumusan masalah Penulisan bisa dimulai dari dua pilar atau kutub tersebut, yakni teori (melalui telah pustaka seperti jurnal, buku teks, tesis atau disertasi, dan proceedings (makalah-makalah hasil seminar yang dipublikasikan), serta kondisi empirik (misalnya melalui pengamatan dan wawancara pendahuluan).
Hasil-hasil Penulisan sebelumnya baik jurnal-jurnal ilmiah bertaraf internasional, tesis, disertasi, maupun proceedings merupakan salah satu sumber gagasan yang penting untuk merumuskan masalah Penulisan dalam Penulisan dasar (basic research). Hal tersebut dapat ditelaah dalam suatu sub-bab mengenai, “keterbatasan/ kelemahan Penulisan” sebelumnya (limitations of the study) serta (saran untuk Penulisan selanjutnya” (recommendations for future research). Setiap Penulis harus menyatakan dalam laporan Penulisannya mengenai keterbatasan/kelemahan Penulisan yang dilakukannya serta memberikan saran terhadap Penulisan yang akan datang mengenai aspek-aspek apa yang perlu diteliti sehingga dapat memperjelas atau menambah informasi mengenai suatu fenomena tertentu.
Perlu ditekankan di sini bahwa dalam hal ini tentunya bukan menjiplak, melainkan meneliti kembali aspek-aspek yang disarankan oleh para Penulis dalam Penulisan-Penulisan sebelumnya, sehingga Penulis selanjutnya bisa memberikan kontribusi teoritik maupun manajerial yang berharga. Dengan demikian, Penulisan tersebut terus berkembang.
Kembali pada kriteria identifikasi masalah yang layak, bahwa rumusan masalah sebaiknya menggunakan pertanyaan maka dapat dibuat rumusan masalah yaitu
-          Apa yang menyebabkan terjadinya masalah lingkungan hidup ?
-          Apa saja yang menjadi perhatian dalam masalah lingkungan  hidup ?
-          Apa dampak dari terjadinya masalah lingkungan hidup ?
-          Siapa yang bertanggung jawab atas permasalahan tersebut ?
-          Bagaimana langkah ynag baik dalam menyelesaikan masalah tersebut ?
-           
3.      Menentukan Variabel Penelitian
Menurut catatan Desi Wulandari dalam http://destiwd.blogspot.com/2011/10/penentuan-variabel-penelitian-dan.html.,ia menjelaskan bahwa variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Setelah mengemukakan beberapa proposisi berdasarkan konsep dan teori tertentu, peneliti perlu menemukan variabel penelitian dan selanjutnya merumuskan hipotesa berdasarkan hubungan antar variabel. Di samping berfungsi sebagai pembeda, variabel juga berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lainnya. Bentuk variabel :
§     Variabel diskrit : dinyatakan dengan angka utuh (hasil perhitungan)
§     Variabel bersambungan : dapat dinyatakan dalam angka pecahan (hasil pengukuran)
Agar dapat dikelompokkan menjadi satu variabel, dua / lebih atribut tidak boleh ‘tumpang tindih’ (mutually exclusive). Atribut dalam suatu variabel harus mencakup semua kemungkinan yang ada dalam suatu variabel (exhaustive). Dalam penyusunan kuesioner, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Contoh, merah dan putih adalah dua dari sejumlah atribut dalam variabel warna.
Jenis Hubungan Antar Variabel
A.                Hubungan Simetris
Variabel yang satu tidak disebabkan / dipengaruhi oleh yang lainnya. Empat kelompok hubungan simetris :
1.      Kedua variabel merupakan indikator sebuah konsep yang sama.
2.      Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.
3.      Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, dimana satu berada yang lainnya pun pasti disana.
4.      Hubungan yang kebetulan semata-mata.
B.                 Hubungan Timbal Balik
Hubungan dimana suatu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya. Variabel terpengaruh dapat menjadi variabel pengaruh pada waktu lain. Contoh, variabel X mempengaruhi variabel Y, pada waktu lainnya varaibel Y mempengaruh variabel X.
C.                Hubungan Asimetris
Satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya. Enam tipe hubungan asimetri :
1.      Hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan kausal yang umumnya dileliti dalam ilmu eksakta, psikologi dan pendidikan. Prinsip selektivitas adalah data dasar yang memperhatikan bahwa kedua kelompok sesungguhnya sama dalam keterbukaan terhadap pengaruh luar sebelum mendapat stimulus.
2.      Hubungan antara disposisi dan respons. Disposisi adalah kecendrungan untuk menunjukkan respons tertentu dalam situasi tertentu yang berada dalam diri. Misal, hubungan kepercayaan dengan kecendrungan makan obat tradisional.
3.      Hubungan antara ciri individu dan disposisi / tingkah laku. Ciri yaitu sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan.
4.      Hubungan antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu. Misal, agar pedagang kecil dapat memperluas uasaha perlu persyaratan pinjaman bank yang lunak.
5.      Hubungan yang imanen antara dua variabel. Bila variabel satu berubah maka variabel yang lainnya akan berubah.
6.      Hubungan antara tujuan dan cara. Misal, kerja keras dan keberhasilan.
Berbagai Hubungan Asimetris
A.                Hubungan Asimetris Dua Variabel
Hubungan antara “variabel pengaruh” dan “varaibel terpengaruh” akan disebut variabel pokok. Hubungan keduanya merupakan titik pangkal analisa dalam ilmu sosial. Dalam ilmu sosial hubungan tunggal antar satu variabel dengan variabel lainnya tidak pernah ada dalam realita.
B.                 Hubungan Asimetris Tiga Variabel
Pengaruh variabel ketiga / keempat dapat “dikontrol” melalui sistem analisa maupun cara penentuan sampel. Menetralisasi pengaruh variabel luar dengan memasukkannya sebagai variabel kontrol / variabel penguji dalam analisa. Akal sehat, teori dan hasil empiris dari penelitian lain merupakan pedoman untuk menentukan variabel kontrol dalam penelitian. Selain dengan memasukkan variabel ketiga kedalam analisa, dapat juga mengontrol pengaruh variabel luar melalui penentuan sampel.
1.      Variabel penekanan dan variabel pengganggu
Dari hasil analisa awal disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antar dua variabel tetapi ketika variabel kontrol dimasukkan, hubungan menjadi nampak. Variabel kontrol dalam kasus ini disebut variabel penekan (suppressor variable).
Masuknya variabel ketiga dalam analisa dua variabel dapat memberikan hasil yang berlawanan dengan hasil analisa dua variabel saja. Variabel ketiga dalam kasus ini disebut variabel pengganggu (distorter variable).
2.      Variabel-antara
Segala sesuatu ada penyebabnya, dan tidak begitu saja terjadi. Variabel antara jika masuknya variabel ini hubungan statistik yang semula nampak antara dua variabel menjadi lemah / lenyap. Karena hubungan yang semula nampak antar kedua variabel pokok bukanlah suatu hubungan yang langsung tetapi melalui variabel yang lain.





Untuk dapat menentukan diantara 3 (kelompok) variabel terdapat variabel-antara, diperlukan 3 hubungan asimetris. A dan B, B dan C, A dan C (lihat gambar di atas).
Menurut Davis dan Blake (1956) variabel sosial budaya tidak dapat mempengaruhi fertilitas secara langsung tapi melalui variabel-antara dinamakan variabel Davis-Blake. Variabel pengaruh dapat melalui variabel antara mempengaruhi variabel2 antara, dapat secara langsung mempengaruhi variabel terpengaruh.
3.      Variabel anteseden
Hasil yang lebih mendalam dari penelusuran hubungan kausal antar variabel. Dan mendahului variabel pengaruh.





Dalam realita, hubungan antar dua variabel merupakan penggalan dari sebuah jalinan sebab akibat yang panjang. Setiap usaha mencari jalinan yang lebih jauh seperti variabel anteseden akan memperkaya pengertian tentang fenomena yang sedang diteliti.
Kerangka teori serta akal sehat yang menentukan suatu variabel dapat dipertimbangkan sebagai variabel anteseden. Untuk itu perlu 3 syarat yaitu :
§    Ketiga variabel saling berhubungan, variabel anteseden dan variabel pengaruh, variabel anteseden dan variabel terpengaruh, variabel pengaruh dan variabel terpengaruh.
§    Variabel anteseden dikontrol, hubungan antar variabel pengaruh dan variabel terpengaruh tidak lenyap. Variabel anteseden tidak mempengaruhi hubungan antar kedua variabel pokok.
§    Variabel pengaruh dikontrol, hubungan antar variabel anteseden dan variabel terpengaruh harus lenyap.
Kesimpulan
Hubungan antar variabel sosial cukup kompleks. Tugas peneliti adalah mencari hubungan yang menarik dan penting, yang menerangkan masalah yang diamati. Hubungan tersebut dikaitkan dengan teori dan hasil penelitian orang lain, dan dirumuskan dalam bentuk hipotesa. Konsep pokok diukur dengan variabel yang diberi definisi khusus oleh peneliti, agar dapat menguji hipotesa penelitian. Penggolongan dan penyederhanaan hubungan agar mudah dimengerti. Mempelajari masalah, hubungan dan memilih variabel dapat menjelaskan hubungan sosial yang dianggap perlu diperhatikan. Penelitian dari orang lain, pengamatan secara akal sehat, pedoman baik menentukan variabel kontrol yang tepat.

sehingga dapat disimpulkan, dalam permasalahan lingkungan hidup, variabel yang dapat diambil adalah :

komponen biotik : manuisa, hewan, tumbuhan
Komponen abiotik : air, tanah, udara

Air, tanah, udara, yang merupakan suatu komponen di muka bumi memiliki hubungan erat dengan manusia dan makhluk hidup lain yang menempatinya karena suatu lingkungan tidak akan tercipta tanpa adanya hubungan dari komponennya. Sehingga keduanya harus memiliki keseimbangan dalam kehidupan di bumi.

4.     SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH
A. Bagian Pembuka :
  • Halaman judul.
  • Lembar pengesahan.
  • Kata pengantar.
  • Daftar isi.
  • Daftar Lampiran.
B. Bagian Isi :
Bab    I    Pendahuluan
-         Latar belakang masalah.
-         Rumusan masalah.
-         Tujuan penelitian.
-         Manfaat penelitian.
Bab  II    Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
-         Pemahasan teori
-         Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
-         Pengajuan hipotesis
Bab III    Metodologi penelitian
-         Waktu dan tempat penelitian.
-         Metode dan rancangan penelitian
-         Populasi dan sampel.
-         Instrumen penelitian.
-         Pengumpulan data dan analisis data.
Bab  IV    Hasil Penelitian
-         Jabaran varibel penelitian.
-         Hasil penelitian.
-         Pengajuan hipotesis.
-         Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya.
Bab   V    Kesimpulan dan saran
C. Bagian penunjang
-         Daftar pustaka.
-         Lampiran- lampiran antara lain instrument penelitian.









BAB III
PENUTUP
1.    KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat diambil kesimpulan :
-          Mengidentifikasi masalah lingkungan hidup dimulai dari menentukan masalah, menentukan penyebab masalah, menentukan keputusan, dan menentukan personel kunci.
-          Melakukan rumusan masalah sebaiknya dengan pembuatan pertanyaan yang mudah di uji
-          Menentukan variabel penelitian yang berhubungan satu sama lain
-          Menggunakan sistematika penulisan karya ilmiah yang baik dan benar

2.    SARAN
-         Bagi kita sebagai generasi muda diharapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup agar ekosistem tetap seimbang.
-         Lebih menggali pengetahuan mengenai lingkungan hidup dengan membaca buku dan lainnya.






iii
DAFTAR PUSTAKA


0 komentar:

Poskan Komentar